Wednesday, December 9, 2009

Qana’ah dalam Hidup

A

LQURAN, banyak sekali menjelaskan tentang manusia sangat mencintai harta. Misal, dalam surat Al Fajr ayat 15-20, Allah berfirman,




“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Sebalik, Allah juga menguji dengan membatasi harta dan rezekinya, maka ia akan mengeluh, “Tuhanku menghinaku.” Padahal Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Sebab, yang menzalimi tidak lain adalah diri manusia itu sendiri. Setelah diberikan amanah, ternyata tidak menjalankannya dengan baik. Banyak dari amanah itu yang disalahgunakan, diselewengkan, dan diletakkan bukan pada tempatnya. Malah amanah hanya dijadikan “jalan” dan alat untuk melempangkan langkah seseorang dalam mengumpulkan harta kekayaan. Dalam pandangan Islam, manusia seperti ini dikatakan tidak qana’ah

Kata qana’ah menurut Abu Abdullah Ibnu Kafif adalah meninggalkan keinginan terhadap apa yang telah hilang, atau apa yang tidak dimiliki, dan menghindari ketergantungan kepada apa yang dimiliki. Sementara Ibn Ali at-Tirmizi mengatakan, qana’ah adalah kepuasaan jiwa terhadap rezeki yang diberikan Allah. Intinya, orang yang qana’ah adalah orang yang kaya, namun walaupun dia jatuh miskin, dia akan bisa menerima kemiskinannya itu sebagai mana dia menerima kekayaannya. Jadi, tak perlu menggugat atas kemiskinan, dan congkak serta takabur atas kekayaan. Sesungguhnya semua cobaan dan ujian dari Allah.

Kita sering melihat banyak orang yang tak pernah puas dengan kekayaannya. Padahal jika dihitung-hitung, harta yang sudah dimilikinya itu sudah sanggup menghidupi tujuh keturunan. Begitu pula orang yang sudah punya selusin toko, ingin menambah lagi dua lusin tempat usaha. Yang sudah punya sepeda motor, ingin mobil, yang sudah punya mobil mau pesawat pribadi dan seterusnya.

Sesungguhnya, harta kekayaan itu tidak pernah terpuaskan. Anehnya lagi, orang yang sudah kaya terkadang ada juga yang masih menganggap bahwa dirinya masih miskin. Sehingga dia tidak pernah lelah dalam mengejar harta. Hidupnya selalu dalam kecemasan karena takut target kekayaan tidak tercapai. Malam tidur tak nyenyak, dan selera makan menjadi hilang karena selalu memikirkan tentang harta. Sehingga berbagai cara dilakukan untuk memperoleh yang dicita-citakannya itu. Padahal Rasul bersabda, “Sikap puas dengan apa adanya, adalah harta kekayaan yang tak akan habisnya.”

Saban tahun, kita membaca deretan orang terkaya di dunia yang dirangking oleh Majalah Forbes dan The Economic misalnya. Namun tidak satu pun media yang mau mempublikasikan orang-orang termiskin di dunia. Karena memang orang tidak mau tahu dengan orang-orang yang hidupnya miskin. Orang-orang yang hidupnya terlunta-lunta, katanya hanya jadi beban Negara, sampah masyarakat. Padahal, mereka juga manusia; sama-sama ciptaan Allah. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Ma’idah: 2, “Bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu bertolong-tolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”

Ingatan saya singgah pada wajah tanpa dosa seorang bocah bernama Siti Khoiyaroh. Gadis mungil berumur empat tahun ini, harus kehilangan nyawanya hanya karena keserakahan segelintir pejabat. Khoiyaroh meninggal secara tragius, setelah tubuh mungilnya terempas ke jalan, dan seluruh tubuhnya bermandikan kuah bakso yang tengah mendidih panas. Peristiwa memilukan tersebut berawal saat para petugas Satpol Pamong Praja Kota Surabaya, melakukan penertiban pasar di Kota Buaya itu pada 11 Mei 2009 lalu. Di sini, dengan kasat mata kita melihat, betapa tidak berkutiknya sebuah kemiskinan diperlakukan semena-mena oleh “tangan” Negara.

Kemiskinan dianggap sampah yang harus dibersihkan oleh Negara. Agar jalanan dan gedung-gedung tampak indah dipandang mata. Oleh para pelancong, oleh para calon investor. Mestinya, para pejabat, pengusaha, dan siapa pun yang katanya pembela orang-orang papa, mestinya dapat berhati lembut dalam menertibkan orang-orang seperti Sumariah dan Mat Naki, pasangan orangtua Khoiyaroh. Mereka hanya pedagang bakso yang hanya “mengambil” semeter lapakan tanah di pasar Wonokromo, Surabaya agar bisa bertahan hidup dengan berdagang bakso. Ini sangat kontras dengan perilaku para pejabat yang menyerobot miliaran rupiah uang rakyat, namun terkadang lepas dari jeratan hukum. Karena mereka punya banyak uang untuk menutupi mental korupnya.

Harta itu telah diingatkan oleh Allah, hanyalah perhiasan hidup di dunia. Betapa, kehidupan duniawi ini hanyalah permainan atau panggung sandiwara. Di sana ada gurau dan canda, ada sedih dan duka, dengan beragam karakter kehidupan. Pemerannya adalah kita semua. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Q.S, Al Kahfi: 46). Hal yang sama juga diingatkan Allah dalam QS. At-Taghabun: 15 dan Q.S, Al-Hadid: 20.

Semua ayat tersebut mengandung pengertian; bahwa harta kekayaan, kesenangan dan kesusahan, hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari Allah swt. Jadi cobaan bukan saja ditimpakan oleh Allah pada orang yang hidupnya miskin, namun kepada orang yang banyak harta kekayaannya, juga sebenarnya Allah sedang mencobanya dengan kekayaannya itu. Apakah amanah berupa harta dan kekayaan yang ada pada dirinya, dapat membuat imannya lebih tebal lagi kepada Allah. Membuat dirinya ringan tangan dalam membantu sesama. Menyantuni orang-orang miskin. Atau malah justru sebaliknya, dengan harta kekayaannya itu, seseorang akan semakin sombong dan takabur. Seekor elang yang terbang tinggi, sepasang matanya yang tajam dan awas, selalu mengawasi ke bumi. Berharap ada anak-anak ayam yang bisa dimangsanya di tanah. Padahal, rimba raya hutan, telah disediakan Allah agar elang bisa mencari makan di sana. Namun sang elang selalu ingin rezeki yang lebih lezat.

Ah, betapa sifat riya dan takabur inilah yang akhirnya pula telah menguburkan kecongkakan seorang Karun. Al kisah, Karun ini adalah orang yang sangat kaya raya. Bahkan untuk mengangkut kunci-kunci gudang penyimpanan hartanya saja, Karun harus mengangkutnya dengan beberapa ekor unta, karena saking beratnya bandulan kunci-kunci gudang penyimpanan hartanya. Namun, karena sikap kesombongannya itu pula, akhirnya Karun dikutuk Allah. Dia bersama harta kekayaannya terkubur dalam tanah. Sehingga orang-orang zaman sekarang, terkadang masih ada juga yang mencari-cari harta si “Karun” ini, apakah yang tertanam jauh di atas bukit, di hutan-hutan, atau yang terpendam dalam di dasar lautan. Orang mengistilahkannya dengan harta Karun. Agaknya, sifat kerakusan seperti inilah yang saat ini sudah banyak menjangkiti manusia, sehingga jauh dari sifat qana’ah. Wallahu’alam bissawab.

Oleh Halim Mubary
26 June 2009, 08:22 Opini Administrator

* Penulis adalah dosen pada STAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen

Artikel Penuh...

Jalan Menuju Qana’ah

K

ata qana’ah menurut Abu Abdullah Ibnu Kafif adalah meninggalkan keinginan terhadap apa yang telah hilang, atau apa yang tidak dimiliki, dan menghindari ketergantungan kepada apa yang dimiliki. Sementara Ibn Ali at-Tirmizi mengatakan, qana’ah adalah kepuasaan jiwa terhadap rezeki yang diberikan Allah. Intinya, orang yang qana’ah adalah orang yang kaya, namun walaupun dia jatuh miskin, dia akan bisa menerima kemiskinannya itu sebagai mana dia menerima kekayaannya. Jadi, tak perlu menggugat atas kemiskinan, dan congkak serta takabur atas kekayaan. Sesungguhnya semua cobaan dan ujian dari Allah.

Allah SWT berfirman mengenai sifat dasar manusia dalam surat Al Imran

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini oleh nafsu, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.



Abdullah `Alawiy al haddad: “Pada pendapatku barangsiapa yang ingin wara` dan memelihara diri serta memilih hanya yang halal semata-mata, maka hendaklah ia bersifat qana`ah (memadai dengan apa yang ada) dari harta benda dunia, dan hendaklah cenderung kepada yang sedikit daripadanya, tidak israf (boros), tidak berlebih-lebihan dan terlampau mencintai syahwatnya” (ms. 301 Wasiat Iman).

Qana’ah itu mengandung lima perkara:
1. Menerima dengan rela akan apa yang ada.
2. Memohonkan kepada Allah tambahan yang bersesuaian, dan berusaha.
3. Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah (taqdir Allah).
4. Bertawakal kepada Allah.
5. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia

Qana’ah (rela dan menerima pemberian Allah subhanahu wata’ala apa adanya) adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadaan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta. ... nak ikut kata sendiri, contohnya masalah Israk dan Mi`raj
Namun meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah. Berikut ini beberapa kunci menuju qana’ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikannya. Di antaranya yaitu:
1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala.
Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.
Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.

2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Seorang hamba hanya diperintahkan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.

3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung.
Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):

“Apa jua jenis rahmat yang dibukakan oleh Allah kepada manusia, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya, dan apa jua yang ditahan oleh Allah maka tidak ada sesuatu pun yang dapat melepaskannya sesudah itu. Dan (ingatlah!) Dialah sahaja yang Maha Kuasa, lagi amat bijaksana (Fathir 35:2)



“Dan jika Allah menghendaki engkau beroleh sesuatu kebaikan, maka tiadalah sesiapa pun yang akan dapat menghalangi limpah kurnianya. Allah melimpahkan kurnianya itu kepada sesiapa yang dikehendakinya dari hamba-hambanya, dan Dialah yang amat pengampun lagi amat mengasihani.
(QS.Yunus 10:107)

“Dan tidak ada suatu pun dari makhluk-makhluk yang bergerak di bumi melainkan Allah jualah yang menanggung rezekinya( yakni semua makhluk adalah dijamin rezekinya oleh Allah Ta`ala. Dalam pada itu, kita disuruh berusaha dan berikhtiar, kerana langit tidak menghujankan emas dan perak), dan mengetahui tempat kediamannya dan tempat ia disimpan. Semuanya itu tersurat dalam kitab (Luh Mahfuz) yang nyata (kepada malaikat-malaikat yang berkenaan). (Hud 11: 6)



“(Orang yang kesempitan hendaklah ingat bahawa) Allah akan memberikan kesenangan sesudah berlakunya kesusahan.” (QS. ath-Thalaq 65:7)
4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki
Di antara hikmah Allah subhanahu wata’ala menentu kan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,


“(Mengapa pemberian kami itu mereka ingkarkan?) adakah mereka berkuasa membahagi-bahagikan (perkara kerohanian dan keagamaan yang ialah sebesar-besar) rahmat Tuhanmu. (Wahai Muhammad, kami hanya berkuasa dalam perkara-perkara dan keduniaan sahaja? Mereka tidak engkarkan) Kami membahagi-bahagikan antara mereka segala keperluan hidup mereka dalam kehidupan dunia ini (setengahnya Kami jadikan kaya raya dan setengahnya sesak menderita) juga Kami telah menjadikan darjat setengah mereka tertinggi dari darjat setengahnya yang lain (semuanya itu) supaya setengah mereka senang mendapat kemudahan menjalankan kehidupan daripada setengahnya yang lain dan lagi rahmat Tuhanmu (yang meliputi kebahagiaan dunia dan akhirat) adalah lebih baik dari semata-mata kebendaan dan keduniaan yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf 43:32)

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS.Al an’am 6:165)
5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberikan qana’ah, beliau berdoa,

“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkatilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
Dan karena hebat qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali sekedar cukup untuk kehidupan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah keperluan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)
6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian
Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rezki, namun bukan ukuran secara pasti.

Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rezki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.

7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia
Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?

8. Membaca Kehidupan Salaf
Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.

9. Menyedari Beratnya Tanggung Jawab Harta
Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkannya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya tentang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya...Lihat tujuh perkara ganjil:
Pemuda itu menyambung lagi, " Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa sahaja. Apabila aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu." " Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda," balas ahli ibadah itu lagi.

10. Melihat kenyataan bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda.
Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus pasang baju maka dia hanya memakai sepasang saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).
Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kenderaan dan kami pun naik kenderaan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”
Sumber: “Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha,” hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil.

Artikel Penuh...

Wasiat Abbas kepada anaknya mengenai rahsia

S

abda Rasulullah saw: Apabila datang seseorang bercakap sesuatu perkara, setelah orang itu beredar, maka perkara yang dicakapkan itu menjadi amanah.

Amanah itu bererti wajib dijaga dengan sempurna. Hanya perkara yang baik saja boleh diceritakan kepada pihak lain, supaya perkara yang ma`ruf itu kian tersebar serta menaikkan nama baiknya pada pandangan masyarakat dan keburukan tidak merebak.

Burukwajib ditutup supaya tidak tersekat.

Bagaimana menjaga rahsia:

• Ada yang mengatakan “Pada dadaku ini kubur rahsia seseorang”
• Sebagaimana kubur tidak pernah memuntahkan mayat seseorang yang bersemadi di dalamnya, begitulah juga apabila seseorang bercakap dengannnya.
• Sahabat adalah bilik kebal yang selamat untuk menyimpan rahsia.

Al Abbas kepada Abdullah:

Sesungguhnya telah ku perhatikan bahawa Sayyidina Umar dalam majlis besar apabila hendak meminta pendapat seringkali dia mendapatkan kamu terlebih dahulu. Oleh itu aku hendak berpesan kepada kamu lima perkara:

1. Jangan buka rahsia ketua (Umar).
2. Apabila berada dalam majlisnya jangan sekali-kali bercerita tentang keburukan orang lain.
3. Jangan diketahuinya yang engkau pernah berdusta walaupun kepada orang lain.
4. Jangan sekali-kali derhaka kepada perintahnya.
5. Jangan sampai ia tahu kamu khianat.

Setengah tanggungjawab lidah ialah senyap daripada bertengkar dan bertelagah dalam setiap perkara yang diucap oleh kawanmu, ertinya jangan mencelah ketika mereka sedang bercakap... (Fikrah Harakah 20 – 22 Syawwal 1430/9 – 11 Oktober 2009)

Indek Persepsi Rasuah (CPI) - (Kajian Transparancy International)

• 1995 - 23
• 2007 – 43
• 2008 – 47
• Sudan - 173
• Afghanistan - 176
• Iraq - 178
• Somalia – 180


Datuk Paul Low, President Transparancy International – Malaysia (TI-M):
“Malaysia kerugian 10 bilion setahun akibat rasuah.... Kerugian gempa bumi di Indonesia dianggarkan kerugian RM 3.6 bilion.
(Siasah 4 – 10 Oktober 2009/15 – 21 Syawwal 1430 ms: 6)

Ghairah Belanja wang Rakyat.

23 September 2009: RM 50,000 Pertandingan Mengail di Kenyir
Projek Galeri Dasar Laut RM 200,000
Projek Strawberry Tanah Rendah RM 200,000
Bazar Warisan RM 18.4 juta.
Perkhidmatan Bas rekabentuk tradisi RM 11.3 juta. (ms: 39)

Majlis Perbandaran Pariaman – Mukhlis Abdur Rahman kerugian RM 3.6 (1 Trilion rupiah)

Artikel Penuh...

Tujuh Perkara Ganjil.

T

erdapat seorang pemuda yang kerjanya menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah s. w. t. Dia berkata, "Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat."

" Yang pertama, aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" tanya pemuda itu. " Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah s. w. t. sewaktu hidupnya. Lantaran Allah s. w. t. menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membezakan mereka daripada golongan muslim yang lain," jawab ahli ibadah tersebut.
Sambung pemuda itu lagi, " Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahad. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telahpun bertukar menjadi babi. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?" Jawab ahli ibadah tersebut, " Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika sempurna solat, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,"
Pemuda itu menyambung lagi, " Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa sahaja. Apabila aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu." " Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda," balas ahli ibadah itu lagi.
" Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" Jawab ahli ibadah itu, " Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah s. w. t. sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibu bapanya."
Golongan kelima, ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya," sambung pemuda itu. " Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah s. a. w. pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda," jelas ahli ibadah tersebut.
" Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahadnya kering kontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya," " Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya," jawab ahli ibadah tadi.
" Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?" tanya pemuda itu lagi. Jawab ahli ibadah tersebut, " Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka. Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah s. w. t. baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya."
Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah s. w. t kita datang dan kepadaNya jualah kita akan kembali. Kita akan dipertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta amalan sebesar zarah. Wallahua'lam..

Artikel Penuh...

Tuesday, December 8, 2009

Sembang-Sembang Dalam Perjalanan

P

agi itu, Selasa 29 September 2009, semasa dalam perjalanan ke pejabat di IPG KDRI, penulis dihubungi oleh al Fadhil Ustaz Salleh Ketua Jabatan Pendidikan Islam dan Moral yang memaklumkan berita sedih mengenai kematian bapa saudara dan neneknya. Solat jenazah akan diadakan pada jam 10.00 pagi nanti katanya. Penulis mengucapkan Innalillahi wa inna ilahi raji`un.

Jam 09.20 penulis bergegas ke bilik rehat pensyarah untuk mencari sahabat-sahabat yang berhajat ke Bukit Depu untuk solat jenazah seperti yang dijanjikan. Namun tak jumpa, maklumlah masing-masing ada tugas yang tersendiri. Akhirnya penulis ke bilik praktikum dan Tuan Haji Ahmad Zahari bersedia untuk ke sana. Alhamdulillah!.

Tepat 09.30 pagi kami mula bertolak ke Bukit Depu melalui jalan Pantai (Lapangan Terbang), Telaga Batin keluar ke Banggol Pauh, ke Jambatan Sultan Mahmud, akhirnya melalui Jalan Pasir Panjang dan terus ke Surau Bukit Depu. Alhamdulillah kami sampai tepat pada waktunya. Ustaz Salleh telah bersedia memberi taklimat mengenai cara untuk solat kedua-dua jenazah (seorang lelaki dan seorang perempuan), dan akhirnya solat jenazah tersebut berjaya disempurnakan.

Dalam perjalanan, walaupun pada pemikiran penulis nak cepat sampai ke destinasi yang dituju, sempat lagi Tuan Haji Ahmad Zahari menceritakan kepada penulis mengenai buku yang baru dibaca. Hasil Karya al Marhum as Syahid Dr. Abdullah Azzam. Buku mengenai Tarbiyah Jihadiyah. Secara yang amat mudah dan suara yang perlahan, beliau menyebut: “Apa yang saya sangat tertarik ialah bagaimana Dr. Abdullah Azzam menyebut tentang kekeliruan ummat kini mengenai pengertian jihad.dan langsung tidak merasa bersalah terhadap penyimpangan tersebut”.

Penulis amat teruja mendengar satu persatu buah bicara beliau, katanya ambil contoh solat, pengertian lughahnya (bahasa) ialah do`a. Namun dari sudut syara`nya, merupakan suatu agenda khusus yang di dalamnya mengandungi perkataan, perbuatan yang dimulakan dengan takbir dan disudahi dengan salam. Untuk itu, andai orang mengambil solat dari sudut bahasa sahaja, maka mungkin mereka merasakan sudah bersolat andainya ia berdo`a. Tidak payah takbir, tak payah baca fatihah, tak payah ruku`, tak payah sujud dan sebagainya. Tetapi walaupun anda berdo`a sepanjang hari pun, kemudian anda tanyalah sesiapa sahaja yang waras akalnya, adakah itu solat, maka jawapannya itu bukan solat, itu adalah do`a, dan tuntutan solat pasti tidak akan terlepas dari diri anda. Kecuali orang yang tidak waras sahaja akan mengatakan anda solat. Jadi untuk solat anda tetap kena buat ikut peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah. Kena ambil wudhu`, kena bertakbir dan menyempurnakan semua rukun yang ada dalam solat. Barulah terlepas tuntutan solat untuk anda. Barulah anda disebut orang yang mengerjakan solat. Kerana solat mesti dilakukan mengikut kehendak Allah, bukan mengikut kehendak manusia.

Contoh yang kedua ialah siyam (puasa). Dari sudut bahasa ialah menahan diri. Dari segi syara`nya ialah menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan minum dan memuaskan nafsu syahwat bermula dari terbit fajar sehingga jatuh matahari. Soalannya adakah kita dikira berpuasa hanya sekadar menahan diri, tapi dalam masa yang sama kita makan kuih, kita mengumpat mengeji dan sebagainya. Dan dalam masa yang sama kita tidak ikut apa yang diprosedurkan dalam disiplin dan syarat-syarat puasa. Tanyalah seratus orang pun, mereka tetap akan mengatakan anda tidak berpuasa. Sebab itu mogok lapar tidak di isytiharkan sebagai puasa. Apatah lagi dengan tatacara sahurnya yang amat diberatkan oleh baginda Nabi s.a.w. Sehingga dalam suatu isyaratnya yang lebih kurang bermaksud: “Bersahurlah walaupun dengan seteguk air, kerana sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkatan dan dalam isyarat lain ianya boleh membezakan puasa umat Islam dengan puasa Ahlil Kitab”. Ini memberi pengertian kepada kita bahawa segala sesuatu yang diperkenalkan oleh Allah dalam Islam itu perlu diteliti supaya benar-benar berbetulan dengan ruh syari`at itu sendiri.

Begitulah halnya dengan Haji atau umrah, yang disebut berpergian ke Tanah Suci. Dari satu sudut lain bermaksud berpergian ke Tanah Suci dengan mengerjakan segala yang telah disyari`atkan menjadi fardhu, rukun, wajib atau sunatnya semasa berada di sana dalam tempoh yang telah ditetapkan oleh Islam. Ambil contoh, anda pergi ke Makkah, sekadar melancung, tetapi anda tidak menunaikan segala rukun dan wajibnya. Menetaplah di sana sepuluh tahun pun, boleh berbahasa Arab dengan fasih. Usahlah berbangga anda telah berhaji, kalau macam itu unta boleh dikira hebatlah. Kerana unta ada yang lahir di sana, menerima arahan dalam bahasa Arab. Apa beza dengan anda?. Abu Jahal juga begitu, lahir di Makkah, makan pakai di Makkah, malah mati pun di sana. Begitu juga dengan Abu Lahab. Lagi hebat, hinggakan ada satu surah yang menceritakan tentangnya. Di dalam sirah diceritakan bagaimana ada segelintir masyarakat jahiliyyah yang tawaf bertelanjang (untuk mudah mesra dengan Kab`bah agaknya) sambil bertepuk tangan (Lihat juga al Anfal 8:35). Namun Allah tetap tidak mengiktirafnya sebagai alhaj. Untuk itu sekiranya disiplin haji tidak diambilkira maka kita tetap tidak dinobatkan sebagai penunai ibadat haji. Tuntutan ibadat tersebut masih lagi tertanggung atas diri kita.

Penulis terkedu bila memikirkan semuanya ini. Demikianlah dengan jihad yang sangat disalahertikan oleh ummat kini. Jihad dari sudut bahasa bermaksud bersungguh-sungguh, sementara dari segi syara`nya bermaksud menggunakan seluruh kekuatan dan daya upaya berperang melawan orang-orang kafir sehingga tertegaknya Islam dan mereka tunduk kepada Islam. Sehingga mereka dapat melihat keindahan Islam itu terpamer dalam wajah yang sebenarnya sebagai pemerintah di atas muka bumi.

Tanpa kefahaman sebenar menyebabkan masing-masing menggunakan istilah jihad sesuka hati. Bila ekonomi meleset, timbullah jihad ekonomi, jihad membasmi kemiskinan, jihad itu, jihad ini dan sebagainya. Akhirnya ada yang boleh goyang kaki dengan hanya menyebut perkataan jihad. Walhal setitik peluh pun belum terhasil untuk mempastikan Islam dapat dilaksanakan di atas muka bumi. Menjadikan masing-masing boleh menjadikan semua aktiviti untuk menaikkan imej Islam sebagai acara bermusim. Bila bulan da`wah diperkenalkan, atau sempena hari-hari tertentu, maka galaklah kita bercakap tentang Islam. Untuk apa? Sekadar memenuhi agenda yang dikehendaki dalam mesyuarat tahunan dan sebagainya. Masa itulah semuanya menyibukkan diri, tak sibuk pun buat sibuk, tak bertudung pun bertudunglah. Habis bulan habis cerita. Habis musim berlalulah ia.

Di satu pihak lain pula menjadikan umat Islam terbahagi kepada pelbagai puak, ada yang suka belajar kitab (talaqqi), tak suka dengar ceramah, langsung tak ambil kira persekitaran. Pada mereka belajar kitab, memondok amat penting untuk menjadi bekal dan pengisian peribadi. Satu lagi sekadar suka dengan ceramah, dalam ceramah ada unsur-unsur motivasi, semangat ada dan mampu menggerakkan diri untuk menyertai mereka yang berjuang menegakkan Islam, namun ilmu mungkin kurang, apa yang ada sekadar bekalan dari ceramah-ceramah saja. Pada penulis kombinasi kedua-dua ini amat penting. Untuk berjuang ilmu mesti ada, mengadap tok-tok guru dan mahirkan dengan kepelbagaian ilmu Islam amat penting. Tapi dalam masa yang sama siri ceramah dan kuliah semasa juga perlu diikuti.

Soalannya kenapa?. Talaqqi atau menadah kitab amat penting terutamanya dalam mengekalkan apa yang dipelajari dalam ingatan. Dengan talaqqi menjadikan kita benar-benar faham dengan sebuah kitab, kerana satu demi satu perkataan yang diungkapkan di dalam kitab akan dibahaskan oleh ilmuan yang mengajar. Murid juga akan memperdengarkan hafalan dan pemahaman mereka untuk semakan. Sesuatu yang ditalaqqi amat banyak keberkatannya, hinggakan ada yang akan terus melekat sampai ke mati. Maklumlah peluang berdepan dengan tok-tok guru pondok adalah era keemasan bagi setiap pelajar. Belajar kitab-kitab tua (kuning) atau kitab Arab dalam satu-satu masa bukan banyak. Kadangkala baca hanya sekadar dua tiga baris sahaja, yang panjang adalah syarahnya. Dalam syarahnya itulah kita dapat lihat perbendaharaan ilmu yang ada pada tok-tok guru. Ini akan menjadikan pelajarnya pakar dalam bidang-bidang tertentu. Sangat mantap.

Penulis sendiri pernah bersembang dengan ustaz Rahim, salah seorang pensyarah JAPIM, mengenai sistem ini. Menurut ustaz Rahim, apa yang hebat di pondok-pondok ialah keikhlasan tok-tok guru untuk menyampaikan ilmu sangat tinggi. Tanpa memikirkan gaji dan ganjaran dunia. Apa yang penting ialah ilmu dapat diwariskan kepada pelajar dan membentuk generasi pewaris ambiya`. Namun kadangkala pelajarnya hanya mewakili bidang-bidang yang ditalaqqi sahaja. Tidak ada kemampuan memperoses dan menganalisis isu agak kurang.

Bila di sana kurang, kat mana kita nak perolehinya?. Aspek ini pula perlu diperkemaskan dalam kuliah-kuliah dan cermah-ceramah ilmuan terkini. Dalam kuliah dan ceramah kita dilatih mendengar syarahan para ulama, menyalin nota berdasarkan fakta yang dihamburkan. Tanpa kefahaman mustahil nota dapat disalin. Ruang bersoaljawab dengan pensyarah, kadangkala berlaku cabar mencabar, didesak dengan provokasi yang kita terpaksa berpenat lelah dengannya dalam setiap sesi kuliah yang berlangsung. sangat penting untuk berdepan dengan cabaran ideologi terkini.

Satu jam berlalu mungkin tidak cukup. Perbincangan dalam bilik kuliah akan dilanjutkan dengan pembacaan dan kajian pemahaman di luar kelas. Itu asasnya. Kesemuanya ini adalah penting untuk melahirkan ilmuan Islam yang memiliki pemikiran yang kritis, kreatif dan inovatif. Dalam kuliah dan ceramah fakta-fakta mungkin disebut secara umum, tetapi jangan lupa di sanalah kita dapat mengambil pengalaman mengolah sesuatu item dan dikaitkan dengan isu-isu semasa. Ini menjadikan apa yang diperolehi lebih segar, ceria dan mampu berdepan dengan suasana semasa dan membentuk semangat untuk berjihad.(lihat juga Hasrizal Abdul Jamil, Rindu Bau Pohon Tin hal: 61-65).

Memang begitulah sistem pengajian mutakhir ini. Bentuknya tidaklah sepadu dan sepadat seperti yang diasaskan oleh baginda s.a.w. Mudah-mudahan kombinasi ini paling tidak akan menjadikan kita lebih hampir kepada sistem yang diasaskan oleh Islam pada peringkat pertama. Berilmu, beriman dan beramal.

Tentang buat kerja untuk mempastikan terbinanya negara Islam (jihad), merupakan kewajipan bagi setiap individu. Malah kalau kita membelek-belek lembaran al Qur`an, nescaya kita akan berjumpa dengan ayat-ayat Allah yang menyindir manusia yang bercita-cita untuk masuk syurga dalam keadaan yang belum lagi terbukti sebarang khidmat bakti dan sumbangannya terhadap perjuangan Islam (Ali-Imran: 200, al Baqarah 214, al Ankabut:2).

Meneliti ayat-ayat begini akan menjadikan kita rasa sangat kecil diri ini. Kadangkala terasa amat mengada-ngada terhadap Allah, amal tidak seberapa namun tetap minta nak masuk syurga, malu sungguh, hidung tak mancung pipi tersorong-sorong. Layak ke tidak. Mintak tu tak salah, memang Allah suruh mintak, tapi buat kerja lagi Tuhan suruh. Kerana Islam agama Allah. Kalau Allah suruh kena buat. Jangan main-main. Jadi apa yang pentingnya buat kerja dulu. Lepas tu Allah nak letak kat mana terpulanglah. Kerana Allah pasti tidak akan akan memungkiri segala janji terhadap hambanya.

Demikianlah halnya sembang-sembang dalam perjalanan ke Surau Bukit Depu

Artikel Penuh...

Monday, December 7, 2009

Demikianlah KJ

S

atu Januari 2009 merupakan tahun yang sangat bahagia bagi penulis. Soalannya kenapa?.

Ada beberapa jawapan yang boleh diberikan. Antaranya tahun ini merupakan tahun akhir penulis berkidmat sebagai Pegawai Perkhidmatan Awam. Ini bererti penulis adalah salah seorang yang bakal berpisah dengan kerjaya yang disandang selama 31 tahun, dan menjadi orang `bebas’.

Keduanya ialah kerana penulis tidak lagi menjadi Ketua Jabatan (KJ) Jabatan Pendidikan Islam dan Moral (JAPIM). Perubahan struktur terbaru Bahagian Pendidikan Guru menetapkan Ketua Jabatan mesti bergred DG 48 Hakiki, lain dari itu kena jadi pensyarah dan tidak dibenarkan lagi menjalankan tugas sebagai ketua Jabatan. Termasuk penulis, alhamdulillah. Sangatlah bersyukur.

Penulis sendiri memang jenis otak akademik, bukan otak pengurusan, itulah yang seronoknya. Terlepas memikirkan beban pengurusan, memikirkan tentang manusia dan kerenahnya. Sekarang hanya memikirkan tentang fakta-fakta akademik. Selalu penulis nyatakan kepada kawan-kawan, menguruskan fakta akademik tidak sesulit menguruskan manusia. Dalam akademik contohnya mengajar Rukun Solat, rukun tiga belas, kalau disebut salam dulu tak apa, takbir tak akan marah, niat tak akan marah. Rukun-rukun lain tak akan berkecil hati. Tapi kalau dalam pengurusan tersilap meletakkan seniority adalah yang akan terasa hati. Itulah manusia.

Bukan tak ada pengalaman dalam pengurusan, tapi mungkin juga kerana selama sebelas tahun sebelum bertugas di IPG KDRI, penulis banyak sangat terlibat. Dulu kena jadi Ketua Unit Pendidikan Islam dan Moral, sementara di luar banyak terlibat dalam pelbagai jawatan untuk satu organisasi gerakan Islam, dari jawatan ahli jawatankuasa, ketua itu, ini sampai kepada setiausaha dan ketua penerangan di peringkat negeri. Pengalaman itu mungkin menyebabkan kejemuan terhadap kerenah pengurusan menjadi-jadi.

Masih segar dalam ingatan semasa penulis semasa menjadi Ketua Unit Pendidikan Islam dan Moral (masa tu Pendidikan Islam belum lagi diiktiraf sebagai jabatan, hanya unit di bawah Jabatan Ilmu Pendidikan), terdapat beberapa kes yang perlu diambil tindakan tegas sesuai dengan prinsip Islam. Antaranya:

01. Tidak mahu membaca doa dalam majlis rasmi, yang salah satu agendanya agak bercanggah dengan Islam.
02. Mempertahankan pelajar perempuan yang tidak mahu memakai pakaian batik, tetapi meneruskan dengan memakai jubah.
03. Seorang bekas pelajar yang tidak mahu membuka purdah untuk menerima hadiah Avon.

Tindakan penulis menyebabkan pihak pengurusan pada ketika itu telah membuat laporan polis dengan mengatakan penulis mengajar ajaran sesat. Namun seperti biasa sebelum membuka fail siasatannya, pegawai polis telah memanggil beberapa orang pemimpin pelajar dan bertanyakan mereka benar atau tidak penulis mengajar ajaran sesat. Secara jujur pelajar tersebut menjawab. “Tuan!, Ustaz tu mengajar kami Pendidikan Islam, dia tak mengajar pihak pengurusan, kalau dia tu mengajar ajaran sesat, kami dulu yang membuat laporan, bukan mereka”.

“Itulah yang saya duduk fikir sekarang ni, saya agak dia orang tu gila agaknya”. Sambung pegawai penyiasat tersebut. Jawapan itu keluar dari mulut pelajar tanpa diduga. Tak ada pun penulis ajar suruh jawab begitu. Demikianlah kehendak Tuhan.

Akhirnya kes ditutup begitu sahaja. Perkara itu telah berlalu, namun ia tetap dikenang sebagai salah satu batu tanda dalam perjalanan, bahawa perkara-perkara yang melibatkan manusia amat cerewet dan perlu berhati-hati.

Selain dari itu penulis juga ditugaskan menjadi setiausaha bilik rekod pelajar (Hal Ehwal Pelajar). Selama sebelas tahun berada di sebuah instutusi pendidikan dulu, tidak kurang tujuh tahun kena pegang jawatan tersebut. Apa-apa sahaja yang berkaitan dengan pelajar kitalah yang kena cari failnya. Hampir semua kes pelajar biasanya akan melalui bilik rekod dulu, semuanya kami kena pastikan ikut salurannya. Masa tu bilik rekod pelajar tidak ada PAR atau kerani untuk membantu. Apa yang ada hanya kami (Pengerusi dan Setiausaha) yang sekaligus menjalankan kerja-kerja pengurusan, kesetiausahaan, perkeranian dan percetakan.

Kerenah pelajar pula almaklumlah, dari masalah biasa sampai kepada kes cuba menghilangkan borang perjanjian untuk menukarkan kerakyatan. Alhamdulillah setakat ini semuanya masih terkawal. Masih segar dalam ingatan di mana seorang bekas pelajar yang baru bertugas, (terikat dengan perjanjian) datang dengan muka separuh kesian. “Tuan, boleh tak saya pinjam borang perjanjian saya untuk saya fotostat, dan selepas itu saya akan kembalikan”. Katanya dengan penuh sopan.

Namun Pengerusi Bilik Rekod Pelajar menjawab. “Tak apa saya akan tolong fotostatkan untuk awak, tunggu ya”. Kata Pengerusi Bilik Rekod Pelajar. Walaupun pelajar tersebut beriya-iya benar meminta untuk meminjam dan memfotostatnya sendiri.

Rupa-rupanya dalam lembut begitu, ada muslihat di sebaliknya, kami dapat tahu selepas itu, bekas pelajar tersebut berhasrat untuk menukar kerakyatannya ke sebuah negara asing sebelum tamat perjanjian. Alhamdulillah taktiknya dapat disedari lebih awal. Borang yang ada dalam simpanan kamilah sebagai penyelamatnya.

Di suatu ketika lain pula, dalam satu organisasi, ketika mengendalikan mesyuarat, setiausaha dan ahli jawatankuasa berselisih pendapat sampai peringkat melemparkan fail. Namun sebagai pengerusi penulis berjaya damaikan kedua-duanya. Bukan apa!, seorang suka mengkritik, seorang lagi terasa seakan-akan semua kerjanya ada saja yang dipersalahkan. Yang satu ni pula mengkritik tanpa sebarang seninya, benganglah setiausaha tu. Masih lagi terngiang-ngiang kata-kata setiausaha tu sambil melemparkan fail. “Kalau you rasa bijak sangat!, ambiklah jadi setiausaha, I bukan kebulur sangat nak jadi setiausaha ni!”.

Satu ketika lain pula, entah macam mana guraunya sama-sama ahli, jenis panas baran, tiba-tiba nak bergaduh. “Kalau nak bergaduh! Jom kita bergaduh secara berjama`ah”. Kata seorang ahli.

Keduanya terus bangun dan menuju ke satu sudut untuk memulakan pergaduhan. Namun ada ahli lain yang berjaya mendamaikan mereka. Anehnya selepas berdamai boleh makan dan minum semeja, boleh gelak dan kutuk mengutuk pulak. Bila tiba nak bergaduh, bergaduh secara berjama`ah. Penulis pun pening memikirkan bagaimana bergaduh secara berjama`ah. Nak kata ada imam, tak pun nampak muka imam. Kedua-duanya hanya sekadar layak jadi makmum saja.

Di IPKT, sebelum ini nama penulis pernah dicadangkan untuk memegang jawatan Ketua Unit Bimbingan dan Kaunseling di Jabatan Hal Ehwal Pelajar, setelah En. Shaharuddin Abdul Jalil bertukar ke IPRM. Namun masih terselamat dengan adanya Puan Maimunah Zaharah. Tetapi sekali lagi aku hampir terkena apabila puan Maimunah bersara. Nama naik sekali lagi, penulis jadi cemas semula. Puas mintak tolong sahabat-sahabat solat hajat. Akhirnya Allah mentaqdirkan datang seorang hambaNya, Mohd. Sani, pensyarah baru yang mempunyai kelulusan dalam Sarjana dalam Bimbingan dan Kaunseling. Terselamat untuk kali kedua. Mohd. Sani akhirnya bertukar suka sama suka dengan Encik Idrul Hisham ke Institut Perguruan Sultan Mizan Besut. Hingga kini, Encik Idrul masih lagi memegang jawatan Ketua Unit Bimbingan dan Kaunseling. Penulis terselamat. Terima kasih banyak Encik Mohd. Sani dan Encik Idrul.

Namun setelah Wan Aziz bersara, penulis tak dapat mengelak lagi. Pernah dalam majlis persaraan beliau, penulis bisikkan kepada Pengarah IPKT ketika itu. “Tuan!, Kalau boleh carilah orang lain jadi KJ, saya ni tak minat, saya bukan orang pengurusan, saya orang akademik. Kalau ngajar, sebanyak mana pun saya terima, tapi pengurusan maaflah tuan!”. Pujuk penulis sedaya upaya.

“Heh! Mano ado orang lain lagi, demolah keno jjadinyo” . Jawabnya spontan dengan loghat Kelantannya. Memang dia orang kelantan pun.

Semasa Wan Aziz masih jadi KJ pun penulis pernah membayangkan supaya beliau menjadi KJ secara berterusan sehingga..... “Mu peganglah, tak dok orang lain doh!”. Katanya sambil mempamerkan sengeh biasanya. Memang Wan Aziz terkenal dengan sengehnya. Murah senyum dan tidak pernah menampakkan kerisauan. Itulah Wan Aziz, penulis selalu panggil `Wang Ajis’.

Sebagai KJ, prestasi anak buah adalah tanggungjawab kita, tak kena cara buat dan tak kena cara nilai, tersekat rezeki orang. Bila sekat rezeki orang fahamlah, bukan rezeki dia saja, termasuk rezeki anak isterinya dan..dan, senangke nak jawab depan Tuhan di akhirat besok. Apa saja yang tak kena pada anak buah, beritanya akan naik pada KJ, Pengarah akan tanya kenapa itu dan kenapa ini?, nak jawab pulak satu hal. Kalau perlu tegur dan nasihat anak buah, kenalah panggil dan buat begitu. Ini yang penulis tak berkenan ni, penulis pun bukanlah jenis sempurna. Nak beri nasihat kat orang, itulah yang tak tahannya. Cuma yang boleh masuknya atas tiket tazkirah. Legalah sikit. Penulis pun bukanlah sempurna sangat, dan memang tidak ada manusia yang sempurna atas muka bumi ini, kecuali Nabi Muhammad s.a.w.

Satu lagi bila terlibat dengan pengurusan ni, kena hadir mesyuarat. Mesyuarat dari yang tertinggi M3P sampailah kepada yang serendah-rendahnya. Masanya pula tak menentu, kadangkala suntuk maghrib. Penulis pula kalau asyik mesyuarat, otak mudah nak beku. Tahulah jenis orang kuat otak kanan ni, seni pun ada sikit, jenis tak suka didisiplinkan pun ada. Jenis penulis bukan boleh diletakkan dalam satu frame dan mesti ikut cara tu. “Hai, kalau gaya ni jawab dia dok makan ssikulah jawabnya”. Namun sebagai KJ penulis kena berada dalam situasi itu. Inilah yang membingungkan.

Mahu tak mahu, terpaksalah pikul tanggungjawab KJ. Puan Hajjah Habsah rakan sejabatan yang kebetulan sama-sama layak, siang-siang lagi dah tolak, tak mahu jadi KJ. Malah bila nak berbincang tentang jawatan tersebut, sebelum keluar surat perlantikan, awal-awal lagi dah tak mahu dengar. “Weil! Nak bbincang tajuk lain dak apa, tapi nak suruh jjadi KJ, tak mboh dengar”. Demikian getus Habsah.

Kadangkala geram jugak, jadi mahu tak mahu bila dah keluar surat perlantikan kena pikullah semampu mungkin. Sebab itulah 16 Disember 2008 setelah surat perlantikan KJ baru (Ustaz Saleh), dan Pengarah IPKT meminta supaya menyerahkan tugas, ianya amat melegakan. Suka juga penulis meminjam kata-kata seorang Professor yang terkenal, setelah dilepaskan jawatan pengurusan dan kembali kepada akademik, “Persis keluar dari satu bilik yang sempit ke padang sahara yang amat luas,ah! betapa leganya”.

Alahai KJ, itulah halnya. Kadangkala nampak semacam glamour, tetapi bila kena mesyuarat tak kenal waktu, itulah yang bengangnya. Teringat jugak satu soalan Munirah (anak), dengan manja bertanya di satu pagi hari minggu, “Ayah tak ada mesyuarat ke hari ni?”. Ada juga rasa nak balas balik kat anak, tapi bila fikir semula memang ya pun. Anak merakam setiap plot yang berlaku di depannya. Bagaimana acuan, begitulah kuihnya. Sampai begitu sekali. KJlah katakan, belum lagi yang lain.

Namun penulis bersyukur, selama setahun lebih menjadi KJ, penulis mendapat kerjasama yang amat baik dan memberangsang dari sahabat-sahabat di JAPIM. "Hinggakan bila out station sekali-sekala, isteri pula kadangkala terlupa nak bekalkan duit belanja kat anak-anak (Amin dan Munirah), sahabat-sahabat di JAPIMlah tolong selesaikan. Bila nak ganti, tak mahu pulak, tak payah kata mereka, sekali-sekala belanja kat Amin dan Munirah. Itulah sahabat-sahabat, terima kasihlah di atas segala-galanya, anda semua banyak menyelesaikan permasalahan”.

Demikianlah halnya pengurusan, kalau jenis otak akademik, akademiklah dia, bukan otak pengurusan. “Demikianlah penulis, KJ. Mungkin setengah orang seronok kerana memang jenis orang pengurusan, tapi bagi penulis memang tak boleh jalan punya, bukan orang pengurusan, Itulah penulis, demikianlah adanya, terima kasih ustaz Leh yang sudi jadi KJ. Mudah-mudahan Allah merahmati kita semua”.

Artikel Penuh...

Thursday, November 5, 2009

Fakta Kering

M

embaca beberapa respons pelajar terhadap blogspot ustaz storm, saya terjumpa dengan satu reaksi terhadap ungkapan yang sering saya sebut: “Fakta anda kering”, mungkin pelajar terfikir sejenak. Kenapa dikatakan fakta kering.


Saya merasa terpanggil untuk memberi penjelasan maksud fakta kering. Lazimnya apabila disebut pelajar, atau calon ke Institusi Pendidikan Guru adalah terdiri daripada mereka yang cemerlang. Paling kurang 5A peringkat SPM dengan lain-lain pencapaian yang membanggakan. Bila begitu keadaannya maka situasi pelajarnya juga mesti power. Harapan pensyarah dan warga IPG memang tinggi.

Secara peribadi saya sangat bangga diberi peluang untuk mengajar, berbincang dan mengujudkan sedikit ruang ‘semacam’ pertelagahan pendapat dalam kuliah atau tutorial. Kerana dengan ujudnya situasi seperti ini sudah tentu akan menghidupkan roh akademik di samping mengasah pemikiran para pelajar supaya lebih kritikal dan berinovasi. Memang suasana begini perlu disuburkan selalu untuk melahirkan pelajar IPG yang baik bersesuaian dengan motto ‘Institut Gemilang Pelajar Cemerlang’.

Setiap mata pelajaran dalam kursus untuk mereka telah disediakan skema-skema tertentu agar hasrat ini tercapai. Kesemuanya ini paling tidak, untuk membolehkan pelajar terlibat dalam beberapa gejala ledakan ilmu berlaku masa kini dan akan datang. Kerana mereka dikira sebagai golongan yang mempunyai potensi besar untuk membantu manusia ke arah kehidupan yang lebih bermakna.

Institusi pengajian diharapkan dapat melahirkan generasi insan yang mempunyai ilmu pengetahuan yang luas dan membuat tindakan di peringkat peribadi, institusi dan negara berdasarkan keilmuan yang mantap serta unggul.

Selain dari perkuliahan, pelajar juga perlu menyiapkan tugasan untuk pembentangan, projek atau KKBI. Untuk itu setiap tugasan yang diberikan perlu disediakan dalam keadaan yang kemas dan ada isti`dadnya. Memang saya amat berminat untuk mendengar dan terlibat sama dalam pembentangan. Melatih mereka supaya pandai bertelagah mengikut disiplin akademik. Paling-paling tidak untuk ‘menumpang’ sama fakta yang diambil dari buku-buku rujukan.

Namun di sana terdapat sedikit kerisauan, di mana kecenderungan pelajar pada peringkat awal ada di antaranya (bukan semua) menjadi sekadar menjadi pengumpul maklumat dan mencurahkan semula maklumat dalam keadaan mentah tanpa dimasak atau diadun terlebih dahulu. Ada juga yang menjadi sekadar tukang fotostat dan membacanya bulat-bulat semasa pembentangan (sekadar menyebut satu dua contoh).

Mungkin kenyataan ini agak falsafi, senang nak faham ialah apabila ditugaskan untuk menyiapkan sesuatu tugasan. Cantiknya, pelajar perlu menstrukturkan terlebih dahulu bidang yang hendak dibuat kajian. Perincikan dulu dalam bentuk tajuk besar sampai kepada sub-topik yang perlu. Kenalpasti buku-buku yang hendak dibuat rujukan. Perbincangan sesama rakan dalam kumpulan atau unit amat perlu supaya anda nampak asas fakta yang hendak distrukturkan. Secara peribadi saya sangat suka kepada pelajar-pelajar yang mengutamakan perbincangan sebelum memulakan sesuatu tugasan.

Kenapa? Kerana bila kita berbincang sudah tentu kita akan dapat banyak hasil, dengan ini kepelbagaian dimensi akan terbentuk dalam pemikiran kita. Selepas itu buatlah saringan. Bukan nak suruh ikut orang. Semasa membuat saringan anda perlu bina prinsip tersendiri. Peringkat awal mungkin kita tidak nampak, namun nanti akan terbentuk sedikit demi sedikit bersama-sama dengan perkembangan kewibawaan seseorang insan.

Setelah dikenalpasti dan nampak dari segi penstrukturannya mungkin anda perlu mencari bahan. Cari bahan, ertinya anda kena baca buku atau kitab. Kata cerdik pandai bila dapat buku dan nak baca kena guna strategi iqra`. Wahyu pertama yang diturunkan bukan sahaja sekadar suruh baca biasa, lihat perubahan yang berlaku kepada masyarakat selepas turunnya wahyu. Kenapa perubahan itu berlaku?. Jawabnya ialah kerana arahan iqra` bukan sekadar membaca, tetapi meliputi pemahaman, penghayatan dan tindakan.

Contohnya kita lihat apa yang disebut oleh Dr. Hasan Langgulung ayat pertama turun menyuruh kita membaca. “Di satu pihak melibatkan proses mental yang tinggi, melibatkan proses pengenalan (cognition), ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization), pemikiran (reasoning) dayakreasi (creativity) di samping proses psikologi” (Pendidikan Islam – Suatu Analisa sosio-psikologikal. hal: 7-8).

Okey, kita diperingkat IPG bukanlah nak sempurna begitu, saya sekadar nak maklumkan bagaimana rangsangan iqra` boleh merevolusikan masyarakat sehingga lahirnya insan-insan rabbani.

Sebagai pelajar IPG, malah bakal disebut mahasiswa, persediaan semacam ini perlu ada. Kalau tidak ada perlu menyediakan diri ke arah itu. Kenapa? Kerana kita adalah bakal pekerja ilmu. Ertinya kita kena cari buku, setelah dapat fakta kena analisis fakta tersebut, kemudian cari hujjah-hujah sokongan supaya kita dapat buat ulasan samada pro atau kontra.

Bagi membuat ulasan kita perlu berada diaras pemikiran analisis dan sintesis. Analitikal untuk melihat kedalaman fakta, sintesis ialah untuk membuat ulasan terhadap fakta tersebut secara ilmiah dan matang. Dengan cara ini akan mengeluarkan kita dari budaya melonggok fakta tanpa sebarang ulasan. Jadi apa yang kita persembahkan tidak akan nampak kering. Sudah ada kuah dan dimasakkan dengan baik. Kekuatan pemikiran diperingkat analisis, sintesis dan penilaian akan membantu anda mempersembahkan semula fakta tersebut dalam dimensi baru, terkini, matang dan bervariasi.

Bergelut dan terlibat sama dalam lautan ilmu memang amat menyeronokkan. Apatah lagi jika ilmu itu mampu membawa kita untuk dunia dan akhirat. Malah amat malang bagi mereka yang sudah dikurniakan suatu suluhan terhadap kedua-dua bidang ilmu yang benar ini, tetapi dia bertindak meninggalkannya. Jangan takut dengan panggilan 'ustaz', kerana itu adalah suatu anugerah yang sangat mahal hasil daripada titik peluh kita bergelumang dengan kitab-kitab serta bimbingan tok-tok guru yang sangat tinggi semangat pengurbanannya. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat yang berganda di atas usaha mereka.

Sebab itu para pelajar PAI, waima apa pun kemahiran dan ilmu anda pelajari dan garapi dalam proses pembelajaran nanti, jangan sampai anda takut untuk dipanggil ustaz. Mungkin juga sebagai anak muda, anda bimbang tentang persiapan ilmu. Tak apa, peringkat umur anda sekarang (akhir belasan dan awal dua puluhan) adalah umur yang sangat manis untuk menuntut ilmu. Pelajarilah sebanyak mungkin ilmu dan kemahiran samada melalui kuliah, tutorial biasa secara rasmi atau mencari tambahannya di masjid-masjid, surau atau tempat-tempat yang setaraf dengannya. Sekali sekala jangan lupa adakan program ‘mujalasatul ulama’ , ini adalah bonus untuk menambahkan lagi kemantapan dan kedalaman ilmu yang anda miliki.

Anda kena usahakan ini semua untuk kebaikan diri dan kerjaya anda. Bukan apa! Takut juga nanti bila anda berada di medan kerjaya sebenarnya, sekali lagi anda ditegur kerana membentangkan fakta-fakta yang kering. Bukan itu sahaja, dahlah fakta kering, takut-takut nanti disebut ‘ustaz kering’ pulak. Ingatlah kembali kisah dua Musa Bani Israil, iaitu Musa bin Imran dan Musa Samiri. Musa bin Imran dibesarkan di istana Fir`aun akhirnya menjadi nabi. Musa Samiri diasuh oleh Jibril pada peringkat pertamanya namun sejarah menceritakan ia menjadi pencetus masalah kepada Nabi Musa as.

Sebab itu di samping kepelbagaian buku dan kitab yang anda rujuk, jangan lupa tahqiqkan pula dengan 'Tok-Tok Guru' yang berkelayakan atau mu`tabar.

Belajarlah dari kesilapan. Nah! Mulakan sekarang, kerana belajar semasa usia begini disebut seperti mengukir di atas batu. Mungkin peringkat pertama agak sukar, tetapi sudah dapat susah nak hilang. Jangan fikirkan kesempurnaan terus. Kerana kita manusia tidak ada yang sempurna, kecuali nabi dan rasul. Namun jangan dinafikan usaha untuk menuju ke arah kesempurnaan. Ingatlah! Ilmu tidak akan datang kepada kita, kitalah yang mesti mencarinya, walaupun terdapat `sedikit' kesukaran. Mudah-mudahan Allah memberkati kita semua.

Artikel Penuh...